Risdania’s Diary

Belajar peka Arsitektur dan Lingkungan

Benang Merah Belanda – Soerabaia 7 April , 2009

kompetiblogbadge-neo

Belanda (bahasa Belanda: Koninkrijk der Nederlanden, secara harfiah berarti “Kerajaan Tanah-Tanah Rendah”) adalah sebuah negara di Eropa bagian barat laut. Di sebelah timur negara ini berbatasan dengan Jerman, di sebelah selatan dengan Belgia, dan di sebelah barat dengan Laut Utara. (wikipedia)

Sebagai salah satu negara yang pernah menduduki Indonesia selama 350 tahun, secara langsung dan tidak langsung ciri arsitektur Indonesia terpengaruh oleh ciri arsitektur Belanda. Arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sampai sekarang masih banyak mendominasi pemandangan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya sebagai tempat saya hidup 23 tahun ini.

Sebenarnya saya ingin berbagi cerita tentang arsitektur kolonial di Indonesia ini, sampai mulut berbusa pun saya siap. Tapi pembaca yang budiman sepertinya akan tertidur ditengah saya bercerita, karena itu cerita kali ini saya fokuskan pada kota Surabaya tercinta ini.

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, kota kelahiran saya -Surabaya- berkembang pesat sekali. Namun terdapat permasalahan dan kegagalan di dalam perencanaan pembangunan kota dan arsitekturnya. Hal ini dikarenakan perencanaan yang tanpa memperhatikan perkembangan kota dan arsitektur masa lalu. Tata kota jika kita melihat dari atas, terlihat seperti benang ruwet.

Lantas apa kita harus menyalahkan masa lalu?


Yang menjadi tanggung jawab kita saat ini adalah, bagaimana memperbaiki tata kota kita, bagaimana menyelamatkan cagar budaya kita agar tidak musnah dimakan modernisasi. Mengobservasi negara yang memiliki tata kota teratur seperti Belanda, agar dapat kita jadikan panutan dalam menata kota ini.

Pada sisi arsitektur sebelum tahun 1900-an di Hindia Belanda sering disebut sebagai “Empire Style” (gaya imperial) yang dipopulerkan oleh Daendels-daendels (Daendels sebagai pimpinan Belanda jaman penjajahan dulu namanya begitu melekat di otak dari jaman sd, setiap kumpeni yang gag apal namanya akan saya sebut sebagai Daendels aja yah..hehe), pada akhir abad ke-19.

Salah satu bangunan bergaya “Empire Style” di Surabaya adalah gedung “Grahadi” yang saat ini menjadi rumah kediaman gubernur Jawa Timur. Gedung Grahadi ini terletak di Jalan Pemuda, tepatnya di sebelah sekolah saya yang penuh kenangan, yaitu SMA 6 Surabaya yang populer disebut Smunam saja.

Bagaimana kokoh dan sombongnya bangunan gedung Grahadi ini sehingga hanya seorang pemimpin yang sanggup menempati. Saya yakin 99,9% dari yang baca ga tau, siapakah arsitek dari Gedung Grahadi ini. Tenang, sebagai pihak yang baru tau saya akan bagi informasi… hehe… ternyata arsiteknya adalah G.C Citroen (another deandels).

grahadi1

Ciri-ciri dari “Empire Style” ini bisa dilihat dari penggunaan banyak gevel pada bagian depannya, warna dominan putih, atap datar, penggunaan pilar-pilar pada pintu masuk atau tempat strategis lainnya serta volume bangunan yang berbentuk kubus.

Dalam sejarah perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia, salah satu bangunan yang dirancang oleh arsitek profesional yang terkenal dengan gaya Empire Style pada sekitar tahun 1900-an adalah gedung “Nederlandsch Indische Spoorweg Mij” yang saat ini dikenal dengan sebutan Gedung Lawang Sewu.

Kemudian, bangunan yang sampai saat ini menjadi tempat favorit untuk berfoto a-la noni-noni Belanda yaitu gereja Katholik dikawasan Kepanjen.

Bangunan ini berlanggam Neo Gothic yang merupakan langgam khas arsitektur Eropa dengan ciri khas ruang membentuk busur, kolom dan kuda-kudanya menjadi satu. Atap-atapnya membentuk kubah disertai pilar-pilar tinggi. Batu bata yang menempel di tembok disusun telanjang tanpa dilapisi semen. Jika dilihat dari atas, bangunan tersebut berbentuk salib. ( nah yang melihat dari atas ini siy belum saya buktikan..hehe)

gerejakepanjen

bii

Foto Gedung BII di Jalan Veteran

jalan-simpang

Mempelajari gaya arsitektur Belanda di Indonesia tentu lebih terasa komplit bila bisa datang ke negara kincir angin tersebut. Melihat teknologi yang ada. Mengagumi bangunan-bangunan tua serta bangunan modern yang ada. Mempelajari nilai-nilai budaya yang tentu berbeda dengan budaya timur.

Ibarat seorang anak kampung yang ingin mendapatkan tiket mempelajari ruang dan waktu globalisme dunia.

Kenali sejarah kota ini dengan langsung menyeburkan diri pada sumber yang ada. Bagaimana keindahan arsitekturnya, kebebasan masyarakatnya, apakah penduduknya seramah “orang timur”, bagaimana rupa kanal-kanal yang ada hingga mendapat sebutan ” The Venice North”, bagaimana bentuk bangunan tua yang berumur 300-400 tahun disana, bagaimana ruang Musium Gogh dimana tersimpan lukisan-lukisan Van Gogh yang terkenal itu.

Ada image menarik yang sangat saya sukai, yaitu “Amsterdam in purple” .

amsterdam-new

Laat me de ruimte, tijd en uw uiterlijk, zodat ik kan laten zien hoe ik ben verlangen naar de afmetingen van uw

Sumber informasi: – ingatan jaman kuliah dolo, http:// wikipedia.com , http: google.com , http://google.com/image

 

17 Responses to “Benang Merah Belanda – Soerabaia”

  1. stefano kuok Berkata

    mm… sedikit nanya neeh.. apa gaya arsitektur rumah-2 blanda emang cm “empire style” ?
    ato maybe ada gaya laen.. “indische style”.. ato apa… ?
    kalo setahu saya.. di Balnda tupun.. saaat pergantian n awal abad 20, ada banyak gaya.. ada roterdam style, amsterdam style, ada art deco, bahkan sedikit pengaruh konstruktivist juga masuk, mengingat di sana sempet berdiri partai nederlandsche nazionalist socialisch (mboh bener g tulisan’e.. tapi maksud’e ya NAZi ala Blanda gt..) mestine ya ada pengaruh’e ya.. di Indo…
    mmm saya jg tertarik berbagi deh…
    ok… dania… trutama soal apa yg mo u bagi ?… style, sejarah, teori, person arsitek’e.. pengaruh, tata-kota ? q minat banget neeh………….. salam, stefano

    iya bener ada banyak banged style arsitektur kolonial, cuma klo dijelasin satu-satu takutnya kaya jaman kuliah dulu,,ngebosenin deh..ayo ayo kamu yang posting lebih jelas..hehehehe

  2. omiyan Berkata

    ya kita belajar banyak bagaimana mendirikan bangunan dengan kuat dan kokoh walau berusia tua sekalipun masih bisa berdiri tegak……..masih ada secuil peninggalan positif dari mereka

  3. diorockout Berkata

    nice picture, keren

  4. Rindu Berkata

    Saya jadi ingat ketika peristiwa Situ Gintung, semua menyalahkan Belanda yang tidak membangun bendungan itu dengan kokoh padahal pemerintah yang tidak mampu merawat…

    Jadi ingat lagi ketika pesawat yang membawa pasukan elit AU terhempas karena pesawat itu buatan Belanda padahal pemerintah yang gak ngerti udah tahu pesawat gak bisa dipake lagi malah diterbangkan …
    :( nice post sist !!

  5. just 'azzam Berkata

    nice info!

    anak arsitek y?

  6. goncecs Berkata

    selain meninggalkan bangunan arsitektur ……
    Belanda juga meninggalkan mental kepada rakyat Indonesia yaitu mental Korupsi ……..

    VOC bangkrut dikarenakan para pejabat VOC nya banyak yg korupsi ….. skarang bangsa Indonesia ikut-ikutan dah …….

  7. alruku Berkata

    Sangat informatif mba.. thanks

    Nanti Ruku maen2 lah ke Surabaya, napak tilas

  8. Indonews4u Berkata

    jangan ragu mbak…….. bila perlu mbak ntar buat bangunan yang lebih kuat…… rumah tahan bakar… he he;)

  9. salman Berkata

    artikel yang menarik… kebetulan saya adalah penggemar gaya arsitektur art deco dan arsitektur jengki , yang banyak bisa dilihat di kota bandung dan jakarta . Saya rasa warisan dari Belanda yang sangat berharga untuk bangsa kita adalah pengetahuan teknik bangunan dan bangunan air. Saya rasa arsitektur di masa lalu lebih jujur dalam hal fungsi dan keindahan, tidak banyak tempelan yang palsu seperti yang kita lihat pada mall dan ruko di kota2 besar. Seharusnya kita kembali kepada kejujuran yang sederhana, karena sederhana itu indah…

  10. sadam7 Berkata

    alo Nte Risda!…, pa kabar?… masih ingat Daffa kan? ponaannya Ncle Ji.

  11. Aditya Berkata

    :D jadi inget masa-masa kuliah dulu… Tentang Belanda ya…. Saya interupsi dengan comment yang terlalu memojokkan Belanda… Bagaimana pun Belanda juga membangun negeri ini dengan baik, walaupun meninggalkan luka lama bagi Bangsa Indonesia. Namun kita juga harus sadar peran penting Belanda dalam mengisi keanekaragaman seni arsitektur yang ada di Indonesia. Bukan kebodohan dan kasus korupsi seperti yang di atas tapi mental dari oknumnya yang musti dibenahi dan kalau perlu di cuci otaknya :D.
    Artikelnya bagus banget Mbak nambah pengetahuan dan ilmu bagi kita semua…. keep blogging with great idea…

  12. zaini Berkata

    aku pernah sekolah di TK Manguni Jl. Simpang Dukuh lulus thn. 1982. SDN Kaliasin 3 Jl. Pemuda (deket kantor pos, deket radio susanah, deket kantor gubenur) cuma sampe kelas 5 Thn. 1988 (pindah ke malang – jakarta). kapan bisa ke surabaya lagi ?

  13. Yety Asriyanti Berkata

    Saya apresiasi banget..n happy nemu tulisan ini.. saya nda bakalan ngantuk kalo anda sungkan untuk bercerita tentang arsitektur kolonial belanda di Indonesia..soalnya saya minat banget ma bidang itu…dan kebetulan skripsi saya mengangkat tema bangunan kolonial Belanda di Pontianak,,..
    semoga anda mau berbagi pengetahuan dengan saya.. terima kasih..

  14. Ruang Hati Berkata

    ealah, peno suroboyo tah ning, iso kop dar dunk :D aku seneng lek delok poto poto sby tempo doeloe, uapik puollll

  15. rudiolf Berkata

    kok artikelnya ga fokus ya…

  16. fitrimelinda Berkata

    di sawahlunto masih banyak nih gedung2 peninggalan zaman belanda,dan masih dirawat dgn baik..

  17. dea Berkata

    gambar nya kereeenn .. :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.